Capacity Upgrading

* Catatan Langsa-Matang Kuli-Banda Aceh

Ketika saya pulang dari Kota Langsa, teman saya Adam, yang tinggal di Matang Kuli meminta saya untuk mampir di tempatnya. Banyak hal yang ingin ia diskusikan dengan saya. Adam baru saja pulang dari Pare, Surabaya, mengikuti beberapa kursus bahasa Inggris. Ia adalah lulusan salah satu perguruan tinggi negeri di Lhokseumawe, jurusan Bahasa Inggris. Tunggu dulu, jangan terlalu cepat anda menilai Adam adalah salah satu korban kegagalan pendidikan di Aceh, yang harus jauh-jauh datang ke Surabaya untuk ikut kursus bahasa Inggris, padahal ia sendiri adalah alumni Bahasa Inggris.

Jika boleh saya berikan sedikit gambaran tentang Adam. Ketika ia masih mahasiswa, ia mendapatkan beasiswa short course IELSP, ia diundang ke Amerika selama 1 minggu untuk mengikuti kursus singkat, salah satu persyaratannya adalah bisa berbahasa Inggris dengan baik. Baru-baru ini juga, ia baru saja mengikuti program pertukaran pemuda Australia – Indonesia. Dan salah satu sayaratnya adalah bahasa inggris yang baik.

Lalu, pertanyaanya, bukannya ia mengambil studi S2, kenapa malah ikut kursus di Surabaya..?

Sebelum saya menjawab, dan memberitahukan alasan Adam pergi ke Surabaya. Saya ingin anda membaca sejenak berita ini:

http://www.jpnn.com/read/2013/06/26/178724/Tidak-Lulus-Sertifikasi,-Guru-Geruduk-Unsyiah-

Apakah anda dapatkan point yang ingin saya sampaikan?

Ya. Capacity Upgrading.

Program sertifikasi guru dilaksanakan agar para guru punya penghasilan lebih, dengan adanya penghasilan lebih ini, si guru bisa mengatur waktu antara urusan rumah tangga dengan urusan profesionalisme keguruannya. Pemerintah mengharapkan agar guru bisa melakukan upgrading keilmuannya secara mandiri. Imbasnya, anak didiknya bisa mendapatkan metode dan pengajaran up to date. Dunia pendidikan adalah ruang dinamis, ia tidak bisa dipaksakan statis, karena pendidikan adalah salah satu cita, karya dan karsa untuk menyempurnakan kebudayaan dan peradaban manusia. Untuk itu, dinamisasi pendidikan harusnya menjadi perhatian yang penting bagi pahlawan tanpa tanda jasa kita.

Itulah yang dilakukan oleh Adam. Dan saya berharap juga banyak orang-orang yang memilih pekerjaan di ruang dinamis sadar bahwa ia harus terus up to date, dan terus mengupayakan agar kapasitas dirinya selalu di upgrade.

Lalu kenapa harus di Pare.? Apakah di Aceh tidak ada kursus bahasa Inggris? Ya, hal ini kembali lagi ke persoalan di atas, banyak lembaga kursus di Aceh tidak up to date, baik dari segi materi, metode, dan proses belajar. Sehingga pilihan Adam adalah Pare.

Dari proses ini bisa dicermati bahwa, ruang yang seharusnya dinamis, tapi dibuat statis maka akan ditinggalkan. Kita hanya bisa berharap bahwa penggerak ruang-ruang dinamis ini cepat mengambil langkah strategis, agar dinamisasi ruang yang kita tempati ini bisa up to date.

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya di blog ini. Saya merupakan salah satu orang yang memilih menempati ruang dinamis ini, karena profesi saya sebagai desainer, maka saya harus terus memotivasi diri sendiri untuk terus melalui ruang itu.

3 thoughts on “Capacity Upgrading”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.