Kelirulogi E-Governance

Beberapa hari yang lalu, ketika saya mengantarkan box client untuk sistem informasi akademik di salah satu perguruan tinggi negeri di Banda Aceh. Seorang pegawai di kantor tersebut celutuk “Eh… apa itu? sidik jari ya..? (absensi fingerprint). waduh gawat ni.”

Saya sempat tercengan sebentar. Walaupun memang perangkat yang saya bawa bukanlah unit finger print, namun saya beranggapan bahwa si pegawai tersebut memiliki mindset yang beda terhadap kehadiran sebuah unit finger print di kantor tempat ia bekerja. Dengan celetukan pegawai tersebut, saya juga mengambil kesimpulan bahwa di instansi tersebut belum memiliki unit finger print sebagai alat absensi.

Celetukan itu juga membuat saya yakin bahwa kehadiran finger print di beberapa instansi di Aceh, telah menjadi momok yang menakutkan. Tentu saja perubahan budaya kerja yang selama ini dijalankan berubah total akibat adanya unit finger print.

Saya memang tidak membawa unit finger print, namun saya membawa unit komputer yang sudah didesain menjadi sebuah box untuk digunakan oleh mahasiswa dan dosen di perguruan tersebut. Unit ini akan difungsikan sebagai sistem informasi akademik. Dengan unit ini, mahasiswa dapat mengisi KRS dan melihat KHS secara online. Dosen juga dengan mudah menginput nilai mahasiswa setelah selesai ujian.

Keberadaan unit sistem informasi akademik di kampus tersebut, meyakinkan saya bahwa, kampus ini memiliki keinginan yang kuat dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa, selain itu juga ingin membuktikan bahwa mereka bisa melakukan perbaikan kinerja dan efisiensi manajemen dengan sistem informasi ini.

Namun sayangnya, keingian kuat tersebut tidak didukung dengan pengetahuan yang memadai tentang manajemen pelayanan yang baik. Di saat semua pegawai negeri dan seluruh kementrian memimpikan Good Governance, namun ada saja personilnya yang masih menilai beberapa action dari good governance mengerikan. Buktinya adalah kegalauan pegawai tadi terhadap unit finger print.

 

Sekilas Tentang Finger Print

Sebelum unit finger print digunakan sebagai alat absensi, pegawai masih menggunakan metode tanda tangan absensi sebagai tanda bahwa ia hadir pada hari tersebut. Namun metode ini dinilai sangat terbuka peluang pegawai melakukan kecurangan. Bisa jadi mereka menitipkan tanda tangan kepada temannya, atau merapel absensi, artinya di dalam suatu hari, ia menandatangani absen untuk satu minggu.

Lalu, unit finger print hadir untuk meminimalisir kecurangan tersebut. Seperti namanya, alat ini akan membaca sidik jari seorang pagawai dan mengolah data sidik jari tersebut menjadi sebuah data. Data akan di simpan disebuah server, kahadiran data tersebutlah yang mengindikasikan bahwa si pemilik sidik jari tersebut hadir.

Kenapa sidik jari.? Karena menurut penelitian, sidik jari manusia sangat unik, dan tiap orang memiliki sidik jari berbeda.

Dengan adanya finger print ini, si pegawai cukup membubuhkan sidik jarinya di unit finger print untuk memberitahukan server agar ia dicatat telah hadir. Jadi, seorang pegawai tidak bisa menitipkan sidik jarinya pada orang lain untuk mengisi absensi kehadiran.

 

Nah… mari kita kembali ke mindset pegawai di atas tadi, apakah ia memiliki sense of service yang baik..?

Saya pun tidak heran, karena memang seringkali saya temui pegawai negeri dengan pakaian dinas nongkrong di warung kopi di saat jam kerja. Bahkan kerap kali melewati jam masuk kantor dan jam kepulangan kantor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.