Kopi, Duren dan Asam Lambung

Rasanya mau muntah saja, tapi perasaan saya tidak memberi sinyal yang benar kepada otak, apakah saya harus muntah atau tidak. Efek ini saya rasakan setelah beberapa hari yang lalu banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan, bahkan tidak jarang hingga larut malam. Untuk itu menyeruput kopi merupakan hal yang mutlak bagi saya yang memang sudah pada tingkatan akut dalam hal kecanduan kopi.

Otak saya seakan tidak bisa diberi sugesti lain selain ngopi ditengah malam untuk menghilangkan rasa ngantuk. Tapi, walaupun begitu, saya juga sangat menikmati cita rasa kopi Aceh yang nikmat. Bagi kami pecandu kopi di Aceh, ngopi atau ngupi, bukan hanya ritual untuk menghilangkan ngantuk di tengah malam, namun lebih dari itu, ngupi merupakan life style. Jadi saya tidak heran melihat teman saya keheranan ketika berkunjung ke Aceh dan melihat begitu banyak warung kopi di Aceh. Keheranan dia juga bertambah, ketika ia merasakan kenikmatan kopi Aceh yang belum pernah ia cicipi sebelumnya di luar Aceh.

Ya… ngupi memang asik, selain untuk mengusir makhluk halus bernama ngantuk, kopi juga bisa membuat saya fokus. Tapi….. Malangnya nasib ini ketika musim duren datang.

Duren, ah siapa sih yang nggak suka dengan duren…?

Buah yang dibalut dengan kulit penuh duri, seakan menguatkan alasannya bahwa apa yang dikandunginya memang nikmat. Saya sangat suka duren, saya juga suka kopi. Artinya saya suka duren dan kopi. Kopi adalah minuman sehari-hari, sedangkan duren hanya datang pada musimnya saja. Namun, walaupun datangnya tidak tiap musim, menghadirkan segelas kopi dan sepiring duren adalah petaka buat saya.

Tapi apalah daya, ternyata benar kata teungku-teungku penceramah, nafsu lebih besar dari keinginan. Akhirnya kopi dan duren bergelut dalam perut saya.

Wal hasil, perut mual, muntah tak mau, tidur pun payah, walaupun ada kenikmatan dalam kentut dan sendawa yang membawa secuil harapan.

Awalnya saya tidak menyadari jika kopi dan duren bisa menyebabkan meningkatnya asam di dalam lambung naik ke tenggorokan, akibatnya kita sering merasa mual. Setelah beberapa lama searching di Gugel. Faktanya memang benar, ketidaknyaman saya ternyata adalah gejala asam lambung. Makan berlemat dan berasam tinggi seperti duren adalah pemicunya. Dan STREESS juga penyebab asam lambung naik. Maka sempurnalah penderitaan saya.

Kerjaan numpuk beberapa hari yang membuat saya stress, dan mengharuskan saya bekerja telat malam yang ditemani secangkir kopi pada musim duren.

Sehingga saya mengambil kesimpulan. Saya tidak akan bekerja hingga larut malam dimusim duren.

 

 

One thought on “Kopi, Duren dan Asam Lambung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.