Menggagas Aceh Library Interconnection

Hingga saat ini, tercatat ada delapan perguruan tinggi di Aceh dalam status Negeri. Sebut saja Universitas Syiah Kuala dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry di kota Banda Aceh. Universitas Malikussaleh dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh di Kota Lhokseumawe. Lalu di wilayah timur ada juga STAIN Cot Kala dan Universitas Samudera di Kota Langsa. Sedangkan di wilayah tengah ada STAIN Gajah Putih dan Universitas Gajah Putih di Kota Takengon.

Jika Universitas Teuku Umar dan STAI Dirundeng di Meulaboh segera diproses perubahan status menjadi PTN, maka Aceh akan memiliki 10 Perguruan Tinggi Negeri. Angka tersebut tentu saja belum termasuk Politeknik Negeri di Aceh.

Walaupun beberapa universitas dinegerikan karena desakan politik dan pertimbangan sejarah konflik di Aceh, namun tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan PTN ini membawa dampak yang sangat besar bagi perkembangan dunia pendidikan di Aceh.

Dengan berubahnya status dari swasta ke negeri, maka PTN mendapatkan sokongan pemerintah dalam hal memperlancar proses belajar mengajar. Bukan hanya inmaterial saja, namun juga material atau fasilitas pendidikan, seperti gedung perkuliahan, gedung administrasi, juga fasilitas pendukung pendidikan seperti perpustakaan.

Di era keterbukaan informasi saat ini, perpustakaan dianggap sebagai pemborosan anggaran. Hal ini karena ada anggapan bahwa semua bahan bacaan ada di Internet, bahkan banyak buku-buku bajakan ada di internet. Akibatnya, banyak PTN terutama di daerah tidak serius dalam mengelola fasilitas perpustakaan ini. Dampaknya adalah, banyak mahasiswa yang kesulitan mencari referensi akademis di perpustakaan.

Hal ini diperparah lagi dengan ketidakseriusan daerah kabupaten dalam mengelola fasilitas perpustakaan di daerah kabupaten/kota masing-masing. Akhirnya, mahasiswa yang mampu dapat membeli buku, sedangkan mahasiswa yang kurang mampu hanya bisa berharap agar kampusnya menyediakan buku yang ia butuhkan.

 

Katalog Pustaka Online

Sebagian besar mahasiswa yang kuliah di daerah yang saya temui di Banda Aceh, mereka mengeluhkan ketersediaan buku di perpustakaan kampusnya, bahkan di Perpustakaan Daerah nya. Bagi mahasiswa yang ingin memiliki referensi lengkap, terpaksa harus ke Perpustakaan Wilayah di Kota Banda Aceh. Namun sayangnya, kerap kali buku-buku penting yang ingin di pinjam sedang dipinjamkan oleh orang lain. Atau bahkan ada beberapa yang tidak ditemukan di Perpustakaan Wilayah.

Betapa sia-sianya waktu dan tenaga para mahasiswa daerah yang harus jauh-jauh ke ibukota provinsi hanya ingin meminjam buku yang belum tentu ada stoknya di perpustakaan yang di tuju.

Untuk itu, pentingnya sebuah perpustakaan menyediakan fasilitas pencarian online. Sehingga bagi mahasiswa daerah yang ingin mencari buku di Perpustakaan Wilayah, dapat melakukan searching terlebih dahulu melalui katalog online, sebelum ia datang untuk meminjam buku tersebut.

Bahkan dengan sistem online tersebut, si mahasiswa dapat melakukan booking buku kepada petugas perpustakaan secara online. Buku yang sudah dibooking tidak akan diberikan kepada orang selain, selain si pemesan. Hal ini bisa dilakukan secara online.

Dibeberapa Negara lain, fasilitas katalog dan pemesanan peminjaman buku online seperti yang saya sebutkan di atas bukan hanya dilakukan oleh perpustakaan kampus saja, tapi juga perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah.

 

SLiMS, Salah Satu Solusi

Dua orang alumni Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, pada tahun 2008 mengembangkan sebuah sistem otomatisasi katalog perpustakaan yang bisa dijalankan menggunakan jaringan TCP/IP. Mereka menamakannya Senayan Library Manajemen Systems (SLiMS), sebagai pilot project, mereka diberikan kesempatan untuk menguji sistem yang mereka buat pada perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional.

Hingga saat ini, SLiMS terus dikembangkan. Bahkan banyak Negara lain sudah menggunakan SLiMS sebagai basis katalog online perpustakaan mereka.

Jika ditelisik, banyak sekali sistem manajemen perpustakaan online, dari yang berbayar hingga yang gratisan. Namun hingga saat ini, SLiMS masih disebarkan secara gratis oleh pembuatnya. Walaupun terbilang gratis, SLiMS dapat diandalkan dalam menajemen perpustakaan denagn volume katalog yang besar.

Beberapa universitas di pulau Jawa sudah menggunakan SLiMS sebagai system resmi manajemen perpustakaan mereka.

Kelebihan sistem ini adalah pada one stop library management service, artinya ia sudah memiliki fasilitas pengelolaan perpustakaan berstandar internasional. Tentu saja karena para pembuatnya paham betul tentang sistem perpustakaan yang notabene Sarjana Ilmu Perpustakaan.

Dengan menggunakan SLiMS, sebuah perpustakaan dapat mengelola sirkulasi buku, mendaftarkan anggota baru, mencetak kartu anggota, menghitung jumlah denda keterlambatan, pemesan peminjaman buku secara online, dan lain-lain. Bahkan sistem ini dapat membantu pustakawan dalam melacak keberadaan buku.

Karena SLiMS dirancang menggunakan bahasa pemograman PHP, ia dapat dijalankan secara online melalui jaringan internet.

 

Aceh Library Interconnection

Salah satu fasilitas baru dalam SLiMS adalah teknologi Union Catalog Server menggunakan Z39.50 protocol. Yaitu sebuah teknologi koneksi yang dapat melakukan komunikasi data, antara satu instalasi SLiMS dengan instalasi SLiMS lainnya.

Misalnya seperti ini, Kampus A di Banda Aceh memasang SLiMS sebagai basis manajemen pada perpustakannya, sehingga ketika mahasiswa mencari buku melalui online, maka si mahasiswa hanya akan ditunjukkan koleksi dari pustaka Kampus A di Banda Aceh. Bagitu juga dengan Kampus B di Lhokseumawe juga menggunakan SLiMS. Jika intalasi SLiMS di kampus A di hubungkan dengan instalasi SLiMS kampus B, maka ketika mahasiswa kampus A mencari buku di SLiMS kampus A dan ternyata tidak ada, maka sistem akan mencari di SLiMS kampus B. Jika ada, maka sistem akan memberikan informasi bahwa buku tersebut ada di perpustakaan di Kampus B.

Nah, mari kita bayangkan, jika semua perpustakaan kampus di Aceh menggunakan SLiMS. Sehingga mahasiswa yang berada di Takengon tidak perlu jauh-jauh ke Banda Aceh, karena buku yang dicarinya ternyata ada di Kampus Lhokseumawe. Atau Mahasiswa Langsa dapat memesan peminjaman buku di perpustakaan kampus Lhokseumawe, karena ternyata buku yang ia cari tidak ada di pustaka kampusnya, tetapi ada di kampus Lhokseumawe.

Jika hal ini terwujud, maka Aceh memiliki jaringan perpustakaan online terbesar di Indonesia. Dan yang paling penting adalah dapat membantu semua lapisan masyarakat dalam mengakses informasi di perpustakaan.

Untuk itu, disinilah peran Badan Arsip Nasional RI di Banda Aceh dalam hal memfasilitasi semua perpustakaan yang ada di Aceh. Terutama perpustakaan dibawah intansi pemerintahan, termasuk perpustakaan PTN dan Badan Perpustakaan ditiap Kabupaten/Kota agar memiliki satu visi dan misi, yaitu membuka akses informasi selebar-lebarnya dan semudah-mudahnya kepada masyarakat melalui Aceh Library interconnection. []

 

Penulis: Ekasaputra, S.Sos.I

Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry
dan Konsultan Teknologi Informasi di aSOKA communications

 

Tulisan di atas sudah dimuat di Majalah BACA Edisi 3, periode Juli-September 2013

4 thoughts on “Menggagas Aceh Library Interconnection”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.