Ngopi di Aceh, Budaya atau Aktivitas?

Sore tadi saya menerima SMS dari teman, isinya ia mengajak saya “ngopi yuk?”. Ajakan itu langsung saya tanggapi dengan “ya”. Walaupun sebenarnya seharian tadi saya sudah minum beberapa gelas kopi. Ketika sampai di warung yang kami sepakati, saya memesan kopi pancung dan teman saya memesan sebuah teh botol. Aneh memang, dia yang ajak saya ngopi, tapi kenapa hanya saya yang ngopi?

Ya, begitulah “ngopi” di Aceh. Jika anda di ajak “ngopi” belum tentu yang mengajak adalah penggila kopi, begitu anda juga jangan merasa canggung untuk memesan selain kopi ketika itu.

“Ngopi” seakan menjadi sebuah kosakata baru dalam menyebut sebuah aktifitas. Namun bagi sebagian orang, ngopi bukanlah aktifitas, tapi budaya.

Tidak semua orang Aceh pergi kewarung kopi hanya untuk meneguk si hitam. Namun ada geliat lain disana, yaitu silaturahmi dan bercengkrama. Segala topik pembicaraan ada di warung kopi, dari urusan tani, melaut, kebun, hasil tanaman, dan lain-lain. Bahkan seringkal persoalan politikpun tumpah di atas meja kopi. Karena itu, kami akan keheranan jika anda hanya duduk sendirian di satu meja dengan segelas kopi di atasnya. Tingkah seperti itu kami sebut “orang sedang minum kopi” tapi jika anda bersama teman-teman berdiskusi sembari menikmati minuman di warung kopi, maka kami sebut itu “ngopi”.

Itulah budaya yang saya maksud. Jadi ketika anda pergi kewarung kopi, bukanlah serangkaian aktifitas pergi, duduk, minum, pergi saja. Namun ada polah lain disana. Polah yang dihinggapi tingkah bersilaturahmi dan diskusi, walaupun sering kali diskusinya tidak berarti.

Tapi bagi saya, ngopi bukanlah sekedar budaya, namun juga lifestyle.

Begitulah…….

One thought on “Ngopi di Aceh, Budaya atau Aktivitas?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.