Plagiafobia

Beberapa bulan lalu saya dipercayakan oleh salah satu Fakultasi di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, untuk membangun sistem jurnal online milik mereka. Sistem ini adalah sebuah website yang berisi semua karya tulis ilmiah milik dosen-dosen di fakultas tersebut. Sistem ini disebut dengan Open Journal System (OJS). Aplikasi web ini merupakan aplikasi free opensource, artinya pengembangnya mengratiskan sistem ini digunakan oleh semua orang, bahkan memberikan izin untuk memodifikasi rangkaian baris kode sistem ini.

Pada saat sosialisasi penggunaan sistem ini, salah seorang dosen senior menyelutuk, “jika dionlinekan, bisa di ambil orang dong”.

Hati saya tergelitik mendengar dosen ini, karena teknologi informasi bukanlah perkembangan zaman yang baru. Namun teknologi ini sudah beberapa dekade hadir dan dekat dengan dunia kampus. Hati saya bergumam, “ini salah satu penyakit plagiafobia, takut dengan aksi plagiasi”.

Sebenarnya saya sangat paham dengan kegundahan dosen tersebut. Walaupun teknologi informasi sudah sejak lama hadir di kampus ini. Namun banyak dosen, bahkan mahasiswa sekalipun hanya menguasai teknologi ini terbatas pada kulitnya saja. Dan itu wajar saja, karena memang fakultas ini bukanlah fakultas sains, apalagi fakultas teknik informatika.

Plagiasi, atau mencontek karya tulis orang lain tanpa mengakui tulisan tersebut adalah milik orang lain, seakan menjadi momok tersendiri bagi dosen yang aktif menulis karya ilmiah. Kerap kali, mereka khawatir jika tulisan yang dihasilkan dengan susah payah, bahkan dengan biaya penelitian yang tidak sedikit, dengan mudahnya di ambil, di contek, bahkan di klaim milik orang lain. Apesnya lagi, sang penulis aslinya tidak tahu bahkan tidak tahu cara mengetahui jika tulisannya sudah di plagiasi oleh orang lain.

Maka cara amannya adalah, tulis, cetak, lalu simpan di dalam lemari. Maka penelitian tersebut hanya bermanfaat untuk tikus dan rayap di rak tersebut.

Lazimnya, penelitian para dosen ini dicetak oleh institusi tempat sang dosen mengajar. Dalam pemahaman lazim, karya tulis yang dicetak, akan sangat sulit di plagiasi. Jika pun di plagiasi maka sang pemilik tulisan bisa dengan mudah membela diri, karena ia memiliki bukti fisik atas karya tulisnya. Tapi jika dalam bentuk digital, akan sangat sulit mengklaim, karena pergerakan data digital yang dengan mudah di copy dan paste sangat sulit dibendung.

 

Open Journal System

Open Journals System (OJS) adalah perangkat lunak sistem pengelolaan jurnal ilmiah berbasis open source dan tersedia secara gratis di seluruh dunia untuk tujuan membuat akses terhadap penerbitan jurnal lebih mudah dan diharapkan dapat meningkatkan pembaca sebuah jurnal serta kontribusinya terhadap kepentingan publik pada skala global.

OJS dibuat oleh komunitas Public Knowledge Project (PKP) yang didedikasikan untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah dan penelitian. OJS ini beroperasi melalui kemitraan antara Fakultas Pendidikan di University of British Columbia, Simon Fraser University Perpustakaan, Sekolah Pendidikan di Stanford University, dan Pusat Studi di Kanada untuk Penerbitan di Simon Fraser University. (baca: Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala, Ditlitabnas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI)

Lalu, apakah jurnal yang telah dimasukkan kedalam sistem OJS ini bebas dari plagiasi..? Tentu saja tidak, namun paling tidak, si penulis yang telah melakukan plagiasi tersebut akan berfikir dua kali untuk bisa memasukkan jurnalnya kedalam sistem OJS.

Itulah teknologi metadata. OJS akan menyimpan metadata berupa bagian penting dari jurnal, seperti nama penulis, abstrak, dan referensi atau sitasi. Dengan metadata inilah OJS bekerja mencocokkan data yang ada di satu jurnal dengan jurnal yang lain. Jika ditemukan metadata yang ganda, maka bisa diketahui asal usul data tersebut.

Itulah sebabnya, Kemendiknas mewajibkan setiap institusi pendidikan di Indonesia menggunakan sistem OJS dalam pengelolaan jurnal ilmiah. Selain untuk mereduksi upaya plagiasi, juga sebagai upaya membuka akses kepada siapa saja untuk memperoleh jurnal yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

Tidak hanya institusi pendidikan, institusi pemerintah yang juga mengelola jurnal ilmiah, seperti kementerian kesehatan, kementerian pertanian, dan laian-lain juga menggunakan OJS untuk mengelola metadata jurnalnya.

 

Publish di semua Kanal Internet

Jika anda memiliki karya tulis, patutlah anda berbangga, karena tidak semua orang bahkan profesor pun sering melakukan atau menulis karya ilmiah. Maka tunjukan kepada dunia bahwa yang ada tulis adalah ide anda, penemuan anda, hasil analisa anda, atau hasil pemikiran terbaik anda. Lalu, publishlah sebanyak mungkin di kanal-kanal internet.

Kenapa..?

Jika karya tulis anda sudah terpublish di banyak kanal di Internet, artinya tulisan anda diketahui oleh banyak orang, dan bahkan banyak institusi. Hal ini tentu saja mengurangi minat seseorang melakukan plagiasi terhadap karaya tulis anda. Karena tentu saja si plagiator ini tau bahwa tulisan anda sudah banyak di ketahui orang lain, dan tidak mungkin untuk diplagiasi olehnya.

Apa saja kanal yang dimaksud..?

Banyak sekali kanal yang bisa digunakan di internet untuk mempublish karya tulis anda, salah satunya adalah Blog. saya sudah sering menulis tentang manfaat blog ini untuk dosen. Kanal lainnya adalah Slideshare, yaitu sebuah web untuk mempublikasikan slide presentasi, tentu dalam hal ini anda harus mengubah dokumen karya tulisan tersebut kedalam bentuk slide. Lalu ada juga situs Academia, PostDoc, ShareDoc, dan lain-lain. Kanal-kanal ini akan saya bahas detail di tulisan lainnya. 🙂

Akhirnya… (seharusnya sudah akhir dari tadi… maaf kepanjangan 🙂 )

Dengan semakin maraknya penggunaan OJS ini, kedepan tidak ada lagi karya tulis ilmiah yang ditulis dengan keringat dan biaya yang mahal, hanya jadi mainan rayap dan tikus di lemari butut seorang dosen atau ilmuan.

Jadi, tidak perlu takut karya ilmiah diplagiasi, karena si plagiator akan berfikir seribu kali melakukan plagiasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.