Project Gutenberg dan Semangat Merawat Literasi

Gutenberg adalah seorang ahli logam berkebangsaan Jerman. Ia lahir pada tahun 1390-an. Nama lengkapnya adalah Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg. Ia menjadi terkenal karena berhasil membuat aloy logam huruf (type metal) yang berbasis minyak dan digunakan untuk mencetakkan tinta di atas kertas. Dalam perkembangannya, ia kemudian menciptakan huruf-huruf blok lainnya dari logam, sehingga tidak perlu lagi menulis menggunakan pena. Inilah cikal bakal teknologi percetakan. Kini ia dikenal sebagai bapak Dunia Percetakan.

Kontribusi Gutenberg dalam menemukan mesin cetak, membuat transfer ilmu pengetahuan sangat mudah. Informasi begitu cepat disebarkan. Tidak ada lagi gagap informasi yang dipisahkan oleh jurang kesenjangan. Namun kini, setelah berabad diciptakan mecin cetak, kita dihadapi pada persoalan rentannya daya tahan kertas terhadap gurusan zaman. Usia kertas yang semakin tua akan semakin mudah hancur, menjadikan karya literasi berupa buku dan dokumen penting lainnya harus ditulis dan di cetak ulang.

Selain itu, banyak literasi-literasi dari belahan dunia lain, tidak dapat dinikmati oleh orang lain yang berada jauh dari lokasi literasi tersebut. Hal inilah yang mendorong Michael S. Hart pada tahun 1971, memulai apa yang dinamakannya sebagai Project Gutenberg.

Project Gutenberg , adalah suatu upaya sukarela untuk melakukan digitalisasi, pengarsipan, dan distribusi karya-karya budaya agar dapat mendorong pembuatan dan pendistribusian ebooks atau Buku elektronik. Project Gutenberg merupakan perpustakaan digital tertua di dunia. Sebagian besar koleksinya adalah naskah lengkap buku-buku domain umum. Proyek ini berupaya menyediakan semua koleksinya sebebas mungkin, dalam format yang tahan lama dan terbuka serta dapat digunakan di hampir semua komputer. Pada bulan Maret 2013, Proyek Gutenberg mengklaim bahwa mereka memiliki 42.000 judul buku dalam koleksinya.

Koleksi buku yang mereka distribusikan terhadap publik tersedia dalam bentuk Berkas naskah, tetapi juga tersedia dalam bentuk lain seperti HTML, PDF, EPUB, MOBI, dan Plucker. Koleksi yang mereka keluarkan bukan hanya dalam bahasa Inggris, tetapi juga dalam beberapa bahasa lainnya. Terdapat beberapa proyek yang berafiliasi dengan dengan Proyek Gutenberg. Kegiatan yang dilakukan oleh proyek-proyek ini adalah menyediakan bahan (buku) tambahan, termasuk diantaranya karya yang berasal dari daerah atau menggunakan bahasa tertentu.

Kebanyakan koleksi Poject Gutenberg adalah karya-karya penulis pada abad pertengahan dan Renaissance. Namun, koleksinya makin beragam kini. Jika anda ingin mencari koleksi-koleksi penulis ternama dunia seperti William Shakespeare dengan karya fenomenalnya “Romeo and Juliet” yang terbit pada tahun 1570 bisa ditemukan di sini. Atau bahkan karya apik “The Secret” yang kini di cetak dengan nama penulis Rhonda Byrne ternyata merupakan perbaikan dari buku Wallace Wattles’ yang terbit pada tahun 1910 dengan judul “The Science of Getting Rich”. Semua buku-buku tersebut bisa didapatkan melalui website Project Gutenberg http://www.gutenberg.org

 

Merawat Literasi

Apa yang dilakukan oleh Michael S. Hart merupakan sebuah upaya mulia agar literasi-literasi penting yang sangat berpengaruh terhadap roda perkembangan zaman dunia ini tetap terawat dengan baik. Sehingga anak-cucu yang lahir di dunia ini bisa melihat dan menghargai karya-karya nenek moyangnya. Serta tahu dan menghormati apa yang sudah di lakukan oleh para pendahulunya.

Dengan merawat literasi, artinya kita juga merawat sejarah. Dan yang paling penting, upaya ini merupakan usaha transfer of knowledge kepada penerus, agar mereka dapat belajar dari pengalaman para pendahulunya.

Budaya merawat literasi bukanlah kegiatan yang asing dilakukan di dunia Barat. Budaya dokumentasi dan literasi di Barat lebih kentara di bandingkan di Timur. Para penduduk di Eropa, menganggap bahwa dokumentasi dan literasi merupakan bukti sejarah yang dapat di pertanggungjawabkan. Hal ini juga di dukung dengan budaya mereka yang tidak terlalu mempercayai takhayul dan dongeng, dimana takhayul kerap tidak bisa di buktikan dengan dokumentasi.

Walaupun, sebenarnya banyak dokumen atau literasi kuno ditemukan di Timur, seperti manuskrip kerajaan dan dokumen sejarah lainnya. Namun, literasi tersebut tidak terawat dengan baik. Bahkan kurang sekali upaya untuk menduplikasi atau mencetak ulang literasi-literasi terdahulu agar mudah didapatkan oleh khalayak.

Merawat literasi, bukan hanya berbicara tentang bagaimana merawat penemuan buku kuno yag sudah lusuh, tapi lebih kepada merawat agar pesan-pesan yang terkandung dalam literasi tersebut bisa didapatkan dan dipelajari oleh khalayak.

 

Literasi Aceh

Aceh sebagai sebuah daerah dengan perjalanan sejarah yang panjang, tentu saja memiliki banyak sekali literasi yang bisa dipelajari dan di dapatkan oleh generasi penerus saat ini. Manuskrip-manuskrip kerajaan Lamuri, Kerajaan Pasai, Kerajaan Aceh Darussalam, hanya menjadi koleksi-koleksi museum saja.

Selain itu, Aceh juga dikenal dengan ulama-ulama produktif, yang selain produktif berdakwah bil lisan, tapi juga produktif berdakwah bil Qalam. Artinya banyak ulama-ulama Aceh dulunya juga adalah sebagai penulis.

Sebut saja misalnya karya Taj Al Salatin dan Bustanus Salatin, yang banyak memuat literasi tentang sejarah perkembangan budaya serta sejarah di Aceh. Belum lagi beberapa penulis sejarah yang masa kemerdekaan, seperti Ali Hasjmy dan H. M. Zainuddin dengan karyanya “Tarikh Aceh dan Nusantara”.

Jika literasi-literasi tersebut tidak dirawat, mungkin suatu hari, anak cucu kita akan menemukannya dalam kegiatan arkeologi mereka, lalu mereka mengatakan bahwa ini adalah manuskrip bersejarah.

 

Digitalisasi, Solusi Merawat Literasi

Kita harusnya sadar bahwa batu tidak lagi menjadi tempat menulis, dan daun pelepah juga tak lagi menjadi penyimpan guratan. Teknologi informasi memberikan kemudahan dalam menulis dan menyimpan guratan-guratan zaman. Untuk itu, upaya digitalisasi literasi Aceh kedalam bentuk digital sudah sangat layak dilakukan.

Slogan-slogan “Aceh Pusaka Keunebah Indatue” tidak layak di sebut jika kita masih belum bisa menunjukkan literasi-literasi kepada khalayak dan bisa diakses secara bebas sebagai sebuah peninggalan moyangnya.

Untuk itu, sudah saatnya Aceh memiliki perpustakaan digital, yang tidak hanya memuat literasi terdahulu, namun juga literasi bermanfaat untuk kemajuan Aceh.

 

—–

Penulis adalah:

Alumni Fakultas Dakwah dan Komukasi, UIN Ar-Raniry

Dan Direktur ASOKA communications

—–

 

Tulisan di atas sudah dimuat di Majalah Baca Edisi 4 (Oktober-Desember 2013)

3 thoughts on “Project Gutenberg dan Semangat Merawat Literasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.