Publo Nanggroe

Menjual negeri, mungkin itulah terjemahan bebas dari judul di atas. Terminologi Publo Nanggroe sering kali diucapkan oleh masyarakat Aceh ketika mereka menyatakan sesuatu kepada seseorang dengan nada marah ataupun benci, ketika orang yang dikatai tersebut melakukan suatu hal yang dinilai telah menjual harga diri bangsa Aceh. Tapi kali ini saya bukan mengajak anda untuk menjual harga diri bangsa, tapi lebih ingin menjual potensi bangsa Aceh yang menguntungkan bagi masyarakat Aceh.

Lalu potensi apa yang bisa dijual..?
Aceh memiliki sumberdaya alam seperti gas, minyak dan tambang. Akan tetapi sumberdaya alam tersebut merupakan sumberdaya energi yang tak terbarui, artinya suatu saat gas dan minyak bumi akan habis jika terus menurus di gali. Industri tambang relatif berdampak kecil pada kesejahteraan rakyat Aceh. Hal ini disebabkan oleh kepemilikan industri tambang tersebut yang dikendalikan oleh pihak asing. Walaupun industri perkebunan sempat juga menjadi primadona di Aceh, tetapi bencana ekologis kerap terjadi karena pembukaan lahan untuk industri perkebunan yang dilakukan tanpa mengindahkan keseimbangan alam. Belum lagi maraknya korupsi di Aceh membuat rakyat hampir tidak pernah merasakan kesejahteraan yang sebenarnya.

Namun apa alternatif  dari hal tersebut.? jawabannya adalah Industri Kreatif. Banyak sekali literatur yang membahas tentang industri kreatif. Namun di Indonesia, industri kreatif seringkali diartikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Selain sebutan Industri kreatif juga banyak dikenal dengan industri budaya atau ekonomi kreatif.

Penekanan utama dalam industri ini adalah pada penggalian kreatifitas individu agar bisa bertahan hidup. Kreatifitas merupakan sumberdaya ekonomi utama bagi manusia dalam membentuk peradaban suatu bangsa.

Dalam The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, Howkins menjelaskan bahwa Ekonomi Kreatif terdiri dari periklanan, arsitektur, seni, kerajinan. desain, fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, Penelitian dan Pengembangan (R&D), software, mainan dan permainan, Televisi dan Radio, dan Video Games.

Namun  ekonomi   kreatif tidak hanya terbatas pada pendapat Howkins di atas saja, namun lebih luas lagi, misalnya pada sektor pariwisata dan kuliner.

Mari kita telisik negara tentangga, Singapura. Negara Singa ini tidak memiliki tambang satupun, bahkan mereka tidak punya industri perkebunan. Namun sektor pariwisata dan pendidikan dijadikan alat pemicu denyut nadi perokonomian Singapura.

Negera ini mempersiapkan infrastruktur pariwisata yang  sangat memadai, seperti transportasi, pusat layanan turis, menjaga kebersihan, dan fasilitas publik lainnya. Efeknya, ketika turis menjadikan Singapura sebagai tujuan visitasi, maka restoran dan hotel akan dapat menampung tenaga kerja. pemilik both di shoping center mendapatkan keuntungan, taxi tidak pernah kosong penumpang, guider selalu saja ada yang memberi tips, pedagang kecil di sangapura juga akan kebagian efek dari industri pariwisata.

Sehingga pemerintah Singapura mendapatkan double income. Pertama dari pajak turis, kedua dari pajak perdagangan para pelaku bisnis dalam negerinya.

Indonesia sendiri memiliki pusat-pusat ekonomi kreatif yang telah berkembang dengan baik. Salah satunya adalah kota Bandung dan Bali. Selain itu Kota Yogjakarta juga sedang mempersiapkan diri menuju kota industri kreatif.

Kelompok industri kreatif yang saat ini sedang berkembang di Indonesia adalah fashion. Industri kreatif ini mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 4 juta orang.

Dengan daya serap yang sangat tinggi tersebut, jika pemerintah serius menggarap industri kreatif ini, maka industri pertambangan dan perkebunan tidak diperlukan di Indonesia.

Contohnya Inggris memiliki sektor industri kreatif terbesar di Eropa, yang secara langsung dan tidak langsung mempekerjakan 1,5 juta orang dan menghasilkan nilai ekspor sebesar 8,9 milyar poundsterling dalam setahun. Negara ini sudah membuktikan bahwa industri kreatif dapat memberi peluang megentaskan kemiskinan jika dikelola dengan baik.

Potensi Ekonomi Kreatif Aceh
Jika mengacu pada pendapat Howkins, banyak sekali ekonomi kreatif yang bisa diciptakan di Aceh. Misalnya dalam hal pariwisata, kuliner, seni pertunjukan, kerajinan, desain, fashion, musik, dan periklanan. Mari kita jual satu persatu.

Pariwisata: Banyak turis lokal yang mengatakan bahwa keindahan pantai Aceh melebihi Bali. Namun karena fasilitas dan pengemasan yang kurang menarik, banyak turis yang tidak mengetahuinya. Untuk itu, butuh kerja kreatif dari instansi pariwisata untuk mengemasnya lebih menarik.

Kuliner: Kuah pliek, timphan, kue karah, mie Aceh, kopi Gayo, merupakan salah satu keunikan kuliner Aceh. Namun sejauh ini, banyak industri kreatif yang masih menggunakan metode konvensional dalam mengemasnya.

Seni pertunjukan dan Film: Ketika tari saman ditampilkan dinegara-negara Eropa, banyak penonton yang berdecak kagum dengan gerakan-gerakan dalam tarian tersebut, hal ini menjadi bukti bahwa seni pertunjukan Aceh diminati oleh negara laian. Lalu mengapa tidak kita memanfaatkannya sebagai upaya meningkatkan penghasilan daerah dan memperbaiki ekonomi masyarakat.

Peran Pemuda
Denyut nadi industri kreatif sangat bergantung pada kreatifitas dan inovasi. Dua hal ini merupakan produk intuisi dari para muda yang berwawasan luas dan terbuka. Untuk itu, jika ingin ekonomi kreatif berhasil di Aceh, maka keberanian pemuda dalam menciptakan ide-ide segar harus di beri ruang khusus.

Banyak sekali pemuda Aceh yang memiliki ide-ide kreatif namun tidak berani diungkapkan dan dijadikan sebagai sebuah peluang bisnis.
Untuk itu, perlu ada usaha dan komitmen pemerintah dalam mengembangkan skill dan stimulasi bisnis bagi para pemuda.

Dukungan Pemerintah
Ketika Inggris menyatakan diri ingin mengembangkan ekonomi kreatif dinegaranya. Pemerintah Inggris mengelontorkan dana sebesar 15 juta ponsterling untuk memberikan stimulan kepada pelaku bisnis kreatif.

Maka tidak heran jika Inggris menjadi negara dengan perkembangan bisnis kreatif terbesar di Eropa. Sebut saja misalnya pada sektor arsitektur, sektor pariwisata, sektor pertunjukan (terutama pertunjukan sepak bola) sektor pelayanan, sektor penciptaan software komputer, dan lain-lain.
Begitu pula dukungan pemerintah sangat penting dalam keberhasilan ekonomi kreatif Aceh. Untuk itu, kita berharap kepada doto Zaini agar, industri kreatif menjadi prioritas pembangunan ekonomi Aceh.

Bukan hanya dukungan stimulan, namun juga dukungan regulasi serta peningkatan kapasitas bagi pelaku industri kreatif di Aceh. Sehingga kita berharap, jika industri ini berhasil, maka semua tambang tidak dibutuhkan dan hutan Aceh akan tetap terjaga.[]

 

Penulis Adalah Staf Sekolah Demokrasi Aceh Utara

 

Tulisan di atas telah dimuat di Majalah Rangkang Demokrasi Edisi 10 (Oktober-November 2012)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.